
Menurut saya cara bali
bertahan dalam era globalisasi adalah mempertahankan budaya dan potensi alam
yang ada di sekitarnya, karena perekonomian Bali mengandalkan Industri
Pariwisata sebagai sektor terdepan, yang bertumpu pada panorama alam dan di
dukung dengan adat istiadat serta seni budaya. Potensi tersebut harus
dilestarikan dan ditumbuh kembangkan, untuk mempertahankan Bali sebagai tujuan
wisata dunia yang berkualitas.
Tahun 2017 jumlah kunjungan turis manca negara sebanyak hampir 6 juta orang dan
wisatawan nusantara sekitar 8 juta orang dan kedepan jumlah kunjungan wisatawan
tersebut ditargetkan akan semakin meningkat dengan telah hadirnya
destinasi-destinasi wisata baru di Pulau Bali. Hal ini disampaikan Wakil
Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) saat peresmian
Patung Naga Sanga Amurwabhumi di gallery UC Silver & Gold, Batubulan,
Gianyar.

“Branding Bali yang begitu kuat sebagai jendela pariwisata dunia, tidak mungkin akan terhindar dari ritme cepat globalisasi dengan segala tantangannya. Dibutuhkan kecerdasan baru dalam meningkatkan daya saing, melalui kreativitas dan kecepatan dalam pengambilan keputusan. Hal ini telah ditunjukkan oleh UC Silver & Gold dengan karya patungnya yang tetap mencirikan budaya Bali, tentu ini menambah destinasi wisata di pulau Bali,” ungkapnya.

Ditambahkan Cok Ace, Bali harus tetap sebagai leading dalam pengembangan pariwisata di Indonesia, oleh karena itu melalui Visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” dalam 5 tahun kedepan, pengembangan Pariwisata di Provinsi Bali secara bertahap akan diupayakan secara menyeluruh dan berkesinambungan, sehingga mampu meningkatkan peran dan potensinya dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat.
“Berbagai upaya akan ditempuh untuk mempertahankan keunggulan Bali sebagai daya tarik tujuan wisata, seperti membangun budaya bersih sehingga Bali tetap terpelihara kebersihan dan mampu memebebaskan Bali dari sampah, menjadikan Bali sebagai pembangunan green ekonomi” ujarnya.

Selain itu, pengembangan destinasi pariwisata, seperti pengembangan desa wisata, meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia, pengendalian dan pengawasan usaha sarana pariwisata, pemeliharaan dan pelestarian budaya (warisan budaya dunia) juga akan terus ditingkatkan baik kualitas dan kuantitasnya. Selanjutnya juga mengembangkan infrastruktur jalan menuju obyek wisata, meningkatkan akses jalan dan memperpendek jarak tempuh dengan membangun shortcut. Pengembangan transportasi baik melalui darat, laut dan udara, seperti rencana pembangunan kereta api, pelabuhan udara Bali utara.

“Saya berharap para pelaku pariwisata beserta seluruh masyarakat Bali bersama-sama, untuk bersinergi menjadi bagian penting untuk bisa memberikan kontribusinya yang nyata untuk memajukan pariwisata di Provinsi Bali. Dengan adanya keterlibatan seluruh jajaran, tentu akan dapat memperkaya ide dan gagasan dalam menjaga pariwisata Bali, pada masa yang akan datang,” imbuh Cok Ace yang pada kesempatan Mantan Menpora di era orde baru Hayono Isman mengatakan, masyarakat Bali tentunya sepakat agar budaya tetap dipertahankan sebagai identitas dan benteng dalam memfilter budaya asing.“Budaya Bali jadi benteng kekuatan Indonesia hadapi era globalisasi,“ tutur Hayono Isman di Denpasar, Rabu (19/2/2014).Karenanya, dia sependapat untuk memastikan bahwa pariwista budaya harus menjadi nafas pengembangan pariwisata di Pulau Dewata. “Bali adalah pariwisata budaya bukan bukan pariwisata yang lain,“ tegasnya lagi.Jadi, yang hendak dikembangkan Bali bukanlah pariwisaata Mall seperti Singapura. Pariwisata yang selalu menjaga faktor lingkungan. Lingkungan tidak bisa dilepaskan pula dari budaya masyarakat Bali. Jika lingkungan tidak terjaga dengan baik maka daya tarik dan kekuatan pariwisata di Bali akan hilang.“Jangan sampai lingkungan yang menjadi kekuatan pariwisata Bali digantikan pariwisata beton,“ tukas Hayono yang maju sebagai capres konvensi Partai Demokrat itu.Hal penting dilakukan dalam menjaga lingkungan Bali dari kerusakan oleh pembangunan adalah faktor penegakan hukum. Jika ada pelanggaran pembangunan hotel harus diambil tindakan tegas. Pemerintah daerah harus konsisten mengawal aturan dan mencegah pembangunan yang merusak lingkungan.Jangan sampai lahan subur produktif dikurbankan untuk pembangunan akomodasi pariwisata seperti hotel atau vila. Apalagi, Indonesia menghadapi krisis lahan pertanian yang terus berkurang. Pengembangan pariwisata bukan mengandalkan fisik namun pariwisata yang berbasis agrowisata atau wisata alam.Dalam pandangan akademisi Universitas Udayana Prof Dr I Gde Parimartha, Bali tidak hanya milik masyarakat setempat tetapi juga kebanggan nasional. Bali memilki daya tarik pariwisata dengan kearifan lokal yang senantiasa melekat pada budaya dan sikap keberagaman. “Budaya Bali perlu diperhatikan seperti daerah lainnya sebagai puncak kebudayaan nasional. Berbagai kearifan lokal sangat luar biasa dan bisa menjadi contoh daerah lainnya“ imbuhnya. sekian dari saya cara mempertahankan Bali di era globalisasi.